1. Tokoh utama : Rika
2. Tokoh antagonis : Rika
3. Tokoh protagonis : Fatimah
4. Tokoh pembantu : Silvi, Santi, Lala, Irma dan Bu Susi
Perwatakannya :
1. Rika : anak pintar, tetapi sombong dan memiliki sifat dengki
2. Fatimah : anak yang berprestasi, baik, jujur dan tulus.
3. Silvi dan Santi : berprestasi dan memiliki watak yang baik
4. Lala dan Irma : adik adik dari Fatimah, yang selalu mendengarkan perkataan Fatimah
5. Bu Susi : guru yang mengajar dikelas 5, memiliki sifat yang tegas dan baik
Berteman Itu Penting
Disuatu desa kecil yang jauh dari keramaian tepatnya di desa Trimulya, terdapat sebuah SD dengan keadaan yang sederhana dan suasana yang damai. Walaupun bisa dibilang sekolah tersebut terpencil, namun sekolah tersebut memiliki siswa/siswi berprestasi baik dibidang akademik mau pun non akademik. Salah satu siswi berprestasi itu adalah Rika, ia selalu juara kelas sejak kelas 1 hingga kelas 5. Ia bahkan mengikuti olimpiade matematika hingga tingkat provinsi. Hal itu lah yang membuat Rika selalu dibangga-banggakan oleh gurunya. Hingga akhirnya Rika menjadi anak yang besar kepala, ia tidak mau berteman dengan anak yang bodoh ia selalu menganggap rendah orang lain. Rika bahkan hanya mau berteman dengan anak yang pintar. Hingga akhirnya Rika hanya mempunyai dua teman, yaitu Silvi dan Santi mereka juga adalah anak yang pintar walaupun tidak sepintar Rika, namun mereka selalu mendapatkan juara 3 besar dikelas. Silvi pernah menjadi juara 3 membaca puisi tingkat kabupaten sementara Santi adalah juara 2 IPA tingkat kecamatan. Walaupun mereka berdua adalah anak cukup berprestasi namun mereka tidak sama seperti Rika yang sombong, mereka masih mau bermain dengan anak yang lain.
Dikelas itu juga ada seorang anak yang berprestasi pada bidang olahraga yaitu Fatimah meskipun ia dari keluarga yang tidak mampu namun semangat ia untuk belajar dan berprestasi sangat luar biasa. Ia adalah anak yang baik dan tidak sombong, ia mempunyai banyak teman. Ia pernah menjadi juara 1 atletik. Dengan keadaan keluarganya yang sangat pas¬-pasan Fatimah harus rela bersekolah dengan sepatu yang bisa dibilang sudah tidak layak pakai. Karena orang tuanya bukan hanya harus menyekolahkan Fatimah tetapi juga kedua saudaranya yaitu Lala dan Irma. Ayahnya yang saat itu mulai sakit, semakin memperburuk perekonomian keluarganya, namun ditengah cobaan yang dihadapinya Fatimah tak pernah berputus asa untuk mencari ilmu. Hal inilah yang membuat Rika tidak menyukai Fatimah, karena Fatimah selalu dibangga-banggakan oleh para guru baik karna prestasi maupun semangatnya dalam menuntut ilmu. Selain itu Rika juga merasa iri kepada Fatimah, karena ia mempunyai banyak teman tidak seperti Rika. Hal itu lah yang membuat tumbuhya rasa benci didalam diri Rika terhadap Fatimah.
Suatu hari Rika berangkat pagi-pagi sekali, bahkan saat itu belum ada satu pun anak yang dikelas. Ia sengaja berangkat pagi karna ia tahu bahwa hari ini adalah jadwal piket Fatimah. Saat itu ia mengambil tempat sampah yang ada disudut ruang kelas, kemudian ia sengaja menyebar sampah yang ada didalamnya itu keseluruh ruangan kelas agar Fatimah susah membersihkannya. Setelah selesai melakukan perbuataannya itu Rika langsung keluar meninggalkan kelas. Tidak lama setelah itu Fatimah datang bersama kedua adiknya dengan menaiki sepedah tua. Betapa terkejutnya Fatimah saat memasuki kelas, ia melihat sampah yang berserakan dimana-mana dan sangat bau. Kemudian ia melihat ke arah meja dan kursi, ia melihat tas Rika diatas meja. Dalam hati Fatimah bertanya “ Apakah yang melakukan semua ini adalah Rika? Tapi kenapa?” Setelah itu Fatimah berfikir “Ah mana mungkin Rika melakukan ini sebaiknya aku jangan berburuk sangka. Lebih aku segera membersihkanya agar tidak kotor dan bau lagi”. Setelah itu Fatimah pun membersihkannya. Saat itu Silvi datang, kemudian ia merasa kasian kepada Fatimah karena memebersihkan kelas yang sangat kotor itu sendirian akhirnya Silvi membantu Fatimah membersihkan kelas. Ketika teman-teman yang lain datang, mereka pun ikut membantu Fatimah membersihkan kelas. Pada saat itu Rika kembali kekelas, betapa terkejutnya Rika saat melihat ruang kelas sudah bersih dan melihat teman-teman yang lain membantu Fatimah membersihkan kelas. Rika pun semakin kesal dan benci terhadap Fatimah, dengan muka masam dalam hati ia berkata “kenapa selalu banyak teman yang menolong dia? Apa sih hebatnya dia dibanding aku? Bahkan silvi dan santi pun ikut membantu Fatimah”. Karena kejadian itu lah Rika semakin membenci Fatimah. Bahkan ia tidak pernah menegur Fatimah.
Suatu hari pada saat jam pelajaran, Rika izin keluar untuk ke toilet tanpa ditemani oleh Silvi maupun Santi. Ia berkata kepada bu Susi “ ibu permisi, Rika izin mau ketoilet” kemudian bu Susi menjawab “kenapa perginya sendiri? Minta temani Santi atau Silvi aja. Soalnya pintu toiletnya rusak, jadi temanmu harus ada yang dijaga diluar” sambil gugup Rika pun menjawab ”ah anu bu, tidak apa-apa saja pergi sendiri saja, Silvi dan Santi kan lagi belajar. Bu Susi merasa ada yang aneh dengan Rika, sehingga ia pun mengikuti Rika. Ternyata Rika tidak pergi kearah toilet, melainkan kearah parkir.
Betapa terkejutnya Bu Susi saat melihat ternyata Rika menghampiri sepeda Fatimah, dan mengempeskan ban sepedah Fatimah. Langsung Bu Susi memanggil Rika dengan nada tinggi. “ Rika kamu ngapaian? Kenapa kamu meklakukan ini kepada Fatimah” . akhirnya dengan suara gemetar dan takut Rika menceritakan bahwa iya sangat memebenci Fatimah. Setelah menedengar cerita Rika, Bu Susi mencoba menasehati Rika agar ia tidak bersifat seperti itu lagi. Karena bagi guru semua murid itu sama dimatanya murid kesayangan maupun murid yang dibenci. Karena hal itu akhirnya Rika mendapat hukuman dari Bu susi untuk keliling lapangan sebanyak 5 kali dan harus meminta maaf dengan Fatimah dikelas. Karena Fatimah adalah anak yang baik, ia pun mau memaafkan kesalahan Rika tersebut. Setelah mendapat hukuman dari Bu Susi, Rika bukannya sadar tapi malah semakin membenci Fatimah.
Suatu hari pada jam pulang sekolah, Rika pulang sendirian dengan mengayuh sepedahnya. Ia menyebrangi sungai yang cukup dalam dan jembatannya yang tidak terlalu besar. Pada saat menyebrang Rika tidak hati-hati, sehingga menyebabkan Rika dan sepedahnya masuk kedalam air. Rika tidak terlalu pandai berenang dan saat itu air sedang pasang, kondisi disekitarnya pun sepi. Hanya ada tiga orang anak yang sedang mengendarai sepeda saat itu. Iya, itulah adalah Fatimah dan kedua adiknya. Rika mencoba sekuat tenaga untuk bisa berada dipermukaan air, sambil tangan melambai-lambai keatas. Pada saat itu lah Fatimah melihat sesuatu diair, tanpa berfikir panjang lagi Fatimah langsung mendekati dan betapa terkejutnya ia saat ia melihat ternyata yang ada didalam air itu adalah Rika. Ia pun segera melepas sepatu dan tas dari badannya, kemudian meloncat turun untuk menolong Rika. Setelah itu Fatimah pun meminta pertolongan kepada warga sekitar untuk menghantarkan Rika pulang yang saat itu dalam kondisi yang sangat lemas.
Sejak kejadiaan ini lah Rika menjadi sadar, bahwa Fatimah benar-benar anak yang baik dan tulus. Ia sangat merasa berhutang budi dengan Fatimah. Ia juga sadar untuk tidak boleh memilih-milih teman lagi ia harus berteman kepada semuanya. Akhirnya semenjak itulah Rika dan Fatimah menjadi teman baik dan saat itu juga Rika mulai mempunyai banyak teman bukan hanya Silvi dan Santi. Bahkan Rika mau membagi ilmunya kepada teman-teman yang tidak bisa dimata pelajaran Matematika maupun yang lainnya. Suatu hari Rika berangkat pagi, karena hari itu adalah hari piketnya. Betapa terkejutnya ia saat masuk kedalam ruang kelas, ia melihat sampah yang bau berserakan dimana-mana, meja dan kursi sangat berantakaan. Dia kemudian berfikir siapakah yang melakukan ini semua?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar